Program Studi Ilmu Komunikasi mengadakan Workshop dan Strategi Penyusunan Proposal PKM untuk mahasiswa Ilmu Komunikasi yang dimentori oleh Filosa Gita Sukmono selaku Tim PKM Center UMY serta PIC PKM Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL). Kegiatan ini bertujuan untuk memudahkan mahasiswa Ilmu Komunikasi dalam penyusunan proposal PKM. Workshop berlangsung di Ruang Sidang Fisipol Gedung Ki Bagus Hadikusumo lantai 1 pada Sabtu (20/10) pukul 9.30 WIB.

“Banyak benefit yang bisa kita dapatkan kalo kita ikut PKM apalagi kalau masuk PIMNAS. Karena akan masuk ke dalam keluarga PIMNAS yang mana akan mendapatkan keuntungan dan fasilitas yang tidak akan didapatkan teman-teman lain yang tidak mendapatkan kesempatan ikut PIMNAS,” ujar Filosa.

Workshop ini dimulai dari mengenalkan kembali mengenai jenis-jenis PKM, perbedaan tiap jenis PKM, contoh-contoh proposal PKM yang lolos PIMNAS, alur pembuatan proposal PKM, informasi-informasi terbaru mengenai PKM, hingga dilanjutkan dengan sesi konsultasi tiap kelompok PKM yang hadir.

Filosa mengatakan bahwa PKM Center UMY telah membuat template yang dapat diakses melalui web PKM UMY, sehingga akan memudahkan mahasiswa dalam pembuatan proposal PKM. Selain itu, Fresh Club UMY akan memandu mahasiswa dalam proses pengunggahan proposal serta mendampingi mahasiswa dalam meminta pengajuan lembar pengesahan berupa tanda tangan hingga ke Lembaga Pengembangan Kemahasiswaan dan Alumni (LPKA).

Zuhdan selaku PIC PKM Program Studi Ilmu Komunikasi mengatakan akan banyak penghargaan yang diberikan jika mengikuti PKM dan dapat lolos ke beberapa tahap. “Kalau lolos sampai tingkat Universitas, akan kita bikinkan sertifikat penghargaan pengganti bridging yang bisa digunakan untuk syarat skripsi. Kalau lolos dan hingga didanai oleh Dikti, jika ada mata kuliah yang tidak sempat diikuti seperti misalnya MPK, maka nilai mata kuliah akan kita konversi,” ucapnya. Zuhdan juga menambahkan bahwa Program Studi Ilmu Komunikasi akan memberikan banyak penghargaan yang akan disiapkan untuk para mahasiswanya jika lolos hingga PIMNAS.

Filosa berpesan untuk membuat judul proposal PKM secara jelas dan tidak lebih dari 15 kata. Ia tidak menyarankan judul yang dibuat berdasarkan singkatan-singkatan karena menurutnya hal seperti ini sudah seharusnya dikurangi untuk pengefektifan jumlah kata pada bagian judul.

Zuhdan juga memberikan informasi tambahan mengenai waktu pengumpulan proposal PKM di tingkat Program Studi Ilmu Komunikasi. “Tanggal 30 (Oktober) adalah deadline untuk kita (mahasiswa Ilmu Komunikasi), lalu nanti kita akan screening. Kemudian direview lalu kita bantu untuk memberikan masukan masukan,” tuturnya. Selain itu akan diberikan waktu dua hingga tiga hari untuk melakukan perbaikan sebelum masuk ke dalam tingkat selanjutnya.

Peserta yang mengikuti workshop begitu interaktif karena mengajukan banyak pertanyaan-pertanyaan dan berkonsultasi mengenai proposal PKM mereka. Salah satu peserta bernama Ridho Widarta merasa sangat terbantu dengan adanya kegiatan ini. Ia menuturkan, “Kita sharing tentang PKM itu udah sangat membantu sekali. Tadi saya lihat teman-teman juga sudah tertarik dengan PKM dan punya ide yang ingin ditulis di proposal. Seperti yang mahasiswa angkatan 2018, tadi sharing ke saya sudah punya banyak ide yang ingin dikembangkan.”

Filosa berharap dengan diadakannya workshop ini akan meningkatnya kembali semangat para mahasiswa Ilmu Komunikasi untuk mengikuti PKM, karena mengingat dua hingga tahun lalu pencapaian yang didapatkan hingga tembus PIMNAS. Ia juga menambahkan, “Harapannya di tahun ini, jumlah proposal yang sampai di danai di Dikti untuk Ilmu Komunikasi menjadi lebih banyak. Karena kita beberapa tahun terakhir ini kan memang animo teman-teman mahasiswa IK terjun di per-PKM-an ini masih minim. Dengan harapan jauh lebih meningkat dalam artian diharapkan nanti jumlah proposalnya meningkat.” Filosa juga berharap bahwa mahasiswa Ilmu Komunikasi menumbuhkan budaya PKM dalam dirinya.

Dosen yang akrab disapa Pak Filo ini mengatakan bahwa mahasiswa masuk PIMNAS adalah prestasi yang membanggakan. Ia juga berpesan agar mahasiswa lebih sadar akan pentingnya sebuah kompetisi, karena menurutnya hal tersebutlah cara untuk membangun Curiculum Vitae yang baik. “Kita tidak hanya berbicara IPK-nya berapa, tapi kita punya apa dan berkegiatan apa dan berprestasi apa selama kita kuliah,” pungkasnya.