CA Adakan Screening FFG 2018

2 Desember 2018 oleh :

(Sumber foto: Communication Awards)

Communication Awards (CA) yang diadakan oleh Korps Mahasiswa Ilmu Komunikasi (KOMAKOM) menggelar screening film para finalis Festival Film Gadget (FFG) 2018 di Jogja Village Inn pukul 17.00 WIB pada Minggu (2/12). Kegiatan ini juga dihadiri oleh juri-juri kompetisi FFG 2 diantaranya yakni, Benny Kadarhariarto dari DSLR Cinematography Indonesia dan Suluh Pamuji sebagai Kurator dan Programmer Film.

“Festival Film Gadget ini adalah sebuah kompetisi, kita membuat sebuah karya audio visual dengan menggunakan gawai atau gadget. Sekarang banyak karya-karya film membuat karya dengan kamera-kamera profesional tapi di Festival Film Gadget ini kita branding sendiri dengan menggunakan gawai yang kita gunakan sehari-hari. Ternyata juga bisa membuat sebuah karya film,” kata Abyan selaku Ketua Kompetisi FFG.

FFG ini telah melewati beberapa rangkaian salah satunya adalah penjurian yang telah mengkurasi karya-karya masuk. “Dari rangkaian acara Festival Film Gadget sendiri, kemarin kita ada penjurian yang mana kita sudah mengkurasi sekitar delapan film menjadi lima dengan ketika juri kita ada om Benny Kadarhariarto dari DSLR Cinematography Indonesia, terus ada mas Suluh Pamuji sebagai Kurator dan Programmer Film, terus ada mbak Ninndi Raras merupakan sutradara Labide Films,” tuturnya.

“Kemarin pada Sabtu, 1 Desember kita sudah mengkurasi delapan film menjadi lima nominasi dan Alhamdulillah kita sudah menentukan nominasi-nominasinya itu. Kemudian dilanjutkan dengan acara screening dengan para juri. Kita konsepnya screening itu lebih ke discuss, kira-kira film dari para kreator atau dari para finalis ini sudah qualified belum ya menurut para juri. Apakah ada ide cerita yang perlu diulik lagi, apakah ada ide cerita yang perlu dikembangi lagi gitu. Kita lebih membahas atau istilahnya sharing diskusinya itu di dalam screening itu,” ucap Abyan melanjutkan mengenai rangkaian panjang kompetisi FFG ini.

Abyan berharap melalui FFG yang diikuti oleh pesertanya dapat membawa hal yang lebih baik. “Kalau harapan ya menjadi lebih baik ya. Dari karya-karya yang masuk ini juga bisa membantu apa permasalahan punahnya bahasa daerah. Kemudian kita bisa mempertimbangkan kembali apakah karya-karya tersebut bisa diaplikasikan atau tidak. Ya tentunya harapannya, dengan adanya CA tahun ini dengan mengangkat isu Antarlina atau dengan kepunahan bahasa daerah, semoga kita menjadi sadar akan pentingnya bahasa daerah,” tutupnya.