Yunika Refa Yudanti, Fauziah Herawati Salma, Zahra Putri Purnama meraih juara 2 dalam kompetisi tingkat nasional dalam Ajang Insan Kreatif Mahasiswa Universitas Gajah Mada (Ajisaka UGM) kategori Pertempuran Humas Nusantara (Prahasta). Tiga orang yang tergabung dalam tim bernama PRedator ST. Royal ini, merupakan mahasiswa Ilmu Komunikasi angkatan 2016 konsentrasi Public Relations serta anggota dari komunitas PRedator UMY. Acara puncak apresiasi kegiatan ini dilangsungkan pada Malam Anugerah Pesta Ajisaka UGM 2018 diadakan di Borobudur Ballroom, Grand Tjokro Hotel Yogyakarta pada Sabtu (3/10).

“Lombanya itu lomba Ajisaka. Jadi Ajisaka itu Ajang Insan Kreatif Mahasiswa dari UGM diikuti sama universitas di Indonesia dan kita ikut yang kategori Prahasta. Prahasta itu PR dari yang Ajisaka itu. Dari 40 peserta Alhamdulillah kita masuk sebagai 5 finalis dan kita disitu ngikuti lomba lagi, brief ke dua ya. Brief kedua itu ada membuat proposal lagi. Terus ada 5 finalis, dari UI tiga, UPH satu, sama UMY,” kata Hera.

Eva menjelaskan bahwa selama mengikuti kompetisi ada dua brief lomba yang diberikan, dan tema kedua brief tersebut saling berkaitan. Perbedaannya yaitu pada luaran yang dihasilkan, brief pertama luarannya berupa essai dan yang kedua berupa proposal. “Brief pertama itu kita disuruh buat essai. Terus buat essai pertama terus dikumpulin itu yang untuk nyeleksi yang 40 peserta (tim) itu jadi 5 kan. Setelah seleksi jadi 5 baru kita masuk ke brief yang kedua itu bikin proposal dan PPT (power point presentation) yang mau kita presentasiin,” kata Eva.

Zahra menjelaskan mengenai isi proposal yang telah mereka buat. “Isi proposalnya kemarin kebetulan itu kita ngambil tentang masyarakat Yogyakarta sama mahasiswa Papua yang baru hectic kemarin lagi konflik gitu. Memang program kita itu, program yang udah kita buat di lingkup yang simpel tapi kita mau program kita itu yang realitas. Jadi program yang kita pilih memang masalah yang benar benar terjadi, baru hangat-hangatnya, memang harus cepat ditangani,” kata Zahra.

Tim ini mengaku sangat berharap jika dapat mengembangkan rancangan program yang telah mereka buat. “Pengen banget. Sebenarnya di proposal kita itu ada bekerjasama sama pemerintah Kota Yogyakarta dan pengennya sih dari itu, juri kaya bergerak gitu sama-sama mengimplementasikan,” kata Hera.

Ketika mengikuti kompetisi Hera mengaku mereka banyak berdoa, belajar, dan meminta restu kepada orang tua. “Setiap kali kita mau ngerjain pasti minta restu sama orangtua, kita mau ngajuin proposalnya itu minta restu sama orang tua. Kita juga bimbingan sama dosen sih kalau misalnya ada yang kurang paham terus dijelasinnya seperti apa,” tutur Hera.

Di samping itu, Eva mengungkapkan dalam kerja tim hal yang paling dituntut adalah memahami satu sama lain jika salah satu diantara mereka sedang memiliki kegiatan lain. Eva juga mengatakan mengenai pembuatan proposal yang dikerjakan bersama-sama. “Soalnya kita bikin proposal itu ada pembagiannya, Hera bagian LBM (latar belakang masalah), aku bagian analisis, dan program sih Mbak Zahra. Jadi ketika kita pertama dapat brief kita itu brainstorming dulu, brainstorming briefnya itu kaya gimana. Terus kita udah mikir nih mau ambil apa gini gini gini, udh tinggal Hera bikin aku bikin terus disatuin. Setelah disatuin nih kita liat lagi nih mana yang salah mana yang benar, saling benarin terus ya udah di fix-in baru dikirim kesana,” kata Eva.

Menurut Hera, melalui kompetisi mereka bisa menerapkan teori-teori yang telah dipelajari di perkuliahan. ”Dari lomba itu kita bisa mengimplementasikan teori-teori yang udah dikasi sama dosen. Menambah semangat juga sih semisal ikut tiba-tiba menang kan memotivasi untuk kita bisa belajar lagi jadi lebih baik. Soalnya kan kita juga pernah gagal ya ikut kaya gitu, ‘buat kaya gini kok salah ya’. Terus kita konsultasi sama dosen, baiknya gimana. Konsultasi sama yang lebih berpengalaman. Kita belajar dari mereka, gali ilmunya mereka gitu,” katanya. Ia juga mengatakan bahwa melalui kompetisi mampu menjalin relasi dengan mahasiswa-mahasiswa perguruan tinggi lainnya.

Eva berharap teman-temannya termotivasi untuk mengikuti kompetisi agar membangun curiculum vitae yang baik. “Terus untuk teman-teman sendiri, pasti bisalah nyempatin waktu dan buat proposal dan buat lomba kaya gitu. Soalnya ini tuh bagus banget gitu loh, semisal buat CV kalian. CV itu nanti penting banget ya buat kerja, yang penting harus coba. Sebenarnya mahasiswa itu takut mencoba karena mikir negatifnya ‘aduh ntar gimana, gak menang gimana’,” tuturnya.

Zahra juga berharap bahwa kompetisi seperti ini bisa diimplementasikan ke dalam bentuk yang dapat direalisasikan dengan bantuan pemerintah. Menurutnya mereka tidak hanya ingin merancang program saja, melainkan agar program yang dirancang dapat bermanfaat bagi banyak orang. “Harapannya buat semua yang mengadakan kompetisi ini gitu, kita itu berharap kalau ini bukan cuma sekedar ajang kompetisi tapi ada realisasinya juga. Jadi kalau memang niatnya mau memajukan negara, kita punya mahasiswa-mahasiswa yang berprestasi, program-program kita juga diapresiasi. Harusnya pemerintah juga andil gitu, program ini juga harus diwujudkan,” ujarnya.