“Menjadi seorang Public Relations bukan melulu tentang pencitraan dan lip service, namun seorang PR Profesional itu harus beretika,” kata Dr. Adhianty Nurjanah, S.Sos., M.Si selaku dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah (IK UMY) Yogyakarta yang juga asesor kompetensi bidang kehumasan dalam acara PR TALK: How to be a PR Proffesional With Good Ethics. Acara ini digelar oleh konsentrasi Public Relations IK UMY di Ruang Ampiteater K.H Ibrahim E7-A lt 5 pada hari Rabu, (5/12).

Di era Komunikasi yang besar dan modern sekarang ini perusahaan besar sangat membutuhkan PR professional dalam membangun reputasi positif organisasi. “PR professional harus mampu merancang program kehumasan yang dapat menciptakan opini positif publik dengan penuh integritas serta berprilaku sesuai etika. Sehingga dapat membedakan yang benar dan yang salah dengan mengutamakan nilai kejujuran dalam melaksanakan tugas sebagai PR,” jelas Adhianty.

Dalam melakukan profesinya seperti dokter, jurnalis, dan lainya PR juga memiliki kode etik PR yang dibentuk oleh Asosiasi Perusahaan Public Relations Indonesia (APRI), Perhimpunan Hubungan Masyarakat Indonesia (Perhumas), Kode Etik Kehumasan Pemerintah dan International Public Relation Association (IPRA) yang menjadi acuan untuk berprilaku professional. “Kode Etik PR sebagai petunjuk,” ungkap Adhianty lagi.

Selain memberikan ilmu kehumasan dari segi teori akademis kepada para peserta yang notabene mahasiswa konsentrasi PR angkatan 2016. Dalam PR TALK ini juga akan memberikan pengalaman menarik terkait beretika dari sisi psikologis dengan mengundang Diah Purwita Rini, P.Si yang merupakan Psikolog juga inner beauty trainer. Menurutnya integritas dapat dibangun dengan kuat jika kita bisa mengenali diri kita sendiri sehingga etika akan terbentuk dan bisa dilakukan dengan tulus bukan pencitraan.

“Kenali diri kalian itu siapa, dan apa tujuan kalian dalam hidup. Kalian boleh menghafalkan etika profesi PR yang ada namun tanamkan karakter penuh cinta kasih jangan hanya sekedar di hafalkan, bentuklah etika dengan tulus. Indikator keberhasilan suatu etika yang baik itu ada pada hati nurani kalian,” ujar Diah. (Pras)