Seorang public relations memiliki peran yang penting dalam membangun reputasi perusahaan ataupun institusinya. Namun peran yang dimiliki oleh public relations tersebut juga harus bisa menciptakan efek “wow” dari perusahaan ataupun institusinya, yang bisa diberikan kepada konsumen. Seperti halnya dalam dunia bisnis, persoalan bisnis saat ini bukan lagi hanya tentang sebagus, sebaik dan seterbaru apa produk yang kita tawarkan. Akan tetapi juga harus memikirkan seberapa besar efek “wow” yang akan diberikan kepada konsumen.

Hal tersebut sebagaimana disampaikan oleh Frizki Yulianti Nurnisya, Kepala Urusan Humas Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dalam launching buku keduanya yang berjudul “Reputasi Yang Berkarakter”, pada Selasa (4/10) lalu di Hotel Jambuluwuk Yogyakarta.

Dalam dunia bisnis misalkan, Frizki mencermati bahwa saat ini orang tidak lagi fokus pada manfaat produk, Ibu – ibu masa kini tiap akhir minggu berbelanja kebutuhan rumah tangga di pasar modern seperti Carrefour, Hypermart, Giant, Superindo dan lain sebagainya. “Mereka belanja di sana karena memiliki sensasi lebih, pegawainya menyusun makanan seafood di atas serutan es, ikan dan ayam secara rapi di sterofoam, bahkan sayur disemprot air agar kesannya baru dipetik. Hal seperti itu memberikan sensasi berbeda dibandingkan belanja di pasar tradisional. Sama saja seperti anak muda yang lebih bangga pakai sepatu bermerek internasional dibandingkan sepatu buatan lokal, meski secara kualitas sama, mereka lebih memilih merek terkenal,” ujarnya.

Karena itulah, Dosen Ilmu Komunikasi UMY ini juga melihat pentingnya peran seorang public relations untuk menciptakan efek “wow” dari sebuah perusahaan ataupun institusi. “Ada banyak istilah nama untuk pekerjaan public relations. Ada public relations officer, hubungan masyarakat atau humas, marketing communicationsgovernment relationsmedia relations dan masih banyak istilah lain. Namun yang paling penting kita paham bahwa everyone is a PR. Jadi semua harus sadar seluruh anggota perusahaan memainkan peran dalam membangun reputasi perusahaanya, bukan hanya tugas tim di divisi PR,” tegasnya.

Frizki juga menjelaskan bahwa buku “Reputasi Yang Berkarakter” ini berisi tentang bagaimana seseorang bisa membangun reputasi perusahannya. “Reputasi beda dengan citra, sebab citra bisa dibungkus sedemikian rupa sedangkan reputasi merupakan track record citra yang terus konsisten sepanjang waktu. Reputasi butuh waktu untuk pembuktian dan kita harus membangun reputasi yang kuat dan punya pembeda dibandingkan kompetitor. Semua itu bisa dilakukan jika punya karakter perusahaan yang kuat,” ujarnya lagi.

Buku “Reputasi Yang Berkarakter” ditulis Frizki berkolaborasi dengan 2 orang lainnya yang juga bertugas sebagai public relations di institusinya, Mochamad Husni merupakan PR dari PT Astra Agro Lestari dan Dyah R Sugiyanto seorang Pranata Humas Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Mereka bertiga merupakan penerima PR Indonesia Fellowship Program 2016 yang ditugaskan untuk menulis buku.

Acara book launching ini juga bertepatan dengan pelaksanaan Jambore Media & PR Indonesia (JAMMPIRO) Ke – 2 yang dihadiri oleh humas se-Indonesia bahkan turut menghadirkan legenda humas Indonesia seperti Elizabeth Goenawan Ananto, Ida Sudoyo, Magdalena Wenas, Maria Wongsonagoro dan Prita Kemal Gani.img_0130