Dua mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogykarta (UMY), Sofia Hasna dan Muhammad Syaiful Aziz dinobatkan sebagai Public Relations (PR) Indonesia Rookie Stars 2018 melalui Jambore PR Indonesia (JAMPIRO). Kegiatan yang dihelat di Aston Semarang Hotel & Convention Center (7-9/11/18) membuat tim ini berhasilkan menyisihkan banyak perguruan tinggi ternama.

“Tahap pertama kita ditantang untuk membuat proposal campaign, disitu ada brief-nya yang menandakan kita harus sesuai sama brief-nya. Kemudian seleksi Alhamdulillah kita lolos masuk tahap kedua dari sekian tim jadi delapan tim. Delapan tim ini ditantang untuk mengimplementasikan campaign yang sesuai dengan proposal kita dalam waku satu bulan. Kemudian seleksi lagi ternyata lolos, dari delapan jadi lima,” kata Sofia menjelaskan tahapan-tahapan dalam kompetisi Rookie Stars ini.

Kemudian Sofia melanjutkan bagaimana tahapan akhir dari kompetisi ini. “Akhirnya kita diundang ke Semarang. Itu kan ada event-nya juga ya, JAMPIRO yang melibatkan praktisi-praktisi PR. Itu posisinya, Rookie itu ada room-nya sendiri terkait presentasi. Sebelum kita mempresentasikan kita juga ngasih laporan evaluasi terkait programnya kita itu sejauh mana pencapaiannya. Presentasinya itu dalam bentuk sharing kebetulan jurinya itu dari ICON PR. Ternyata lima tim ini sudah dinobatkan menjadi pemenang, dinobatkan jadi PR Rookie Star 2018,” ucapnya.

Ia mengatakan bahwa persiapan kompetisi ini telah dimulai sejak bulan Juni. Campaign yang mereka angkat terkait pendidikan di Jayawijaya. Program yang bernama Lintas Pendidikan Jayawijaya ini berisi tentang cara agar orang-orang sadar bahwa Jayawijaya membutuhkan dukungan dari sisi pendidikan. Maka implementasi program ini melalui campaign online dan offline.

Di samping itu, Aziz sebagai sebagai rekan tim Sofia menjelaskan banyak hambatan yang mereka hadapi saat persiapan kegiatan ini, khususnya pada masalah waktu. Ia mengatakan bahwa pada dasarnya kegiatan ini bertabrakan saat kegiatan KKN dan magang namun mereka memiliki solusi sendiri untuk mengatasinya. “Namun cara mengatasinya adalah membagi waktu secara optimal mengerjakan hal-hal yang bisa dikerjakan tanpa menunda-nunda sehingga semuanya dapat berjalan dengan optimal tanpa mengurangi kegiatan yang lain,” kata Aziz. Ia menambahkan, “Mengerjakan sesuatu memang harus konsisten karena yang kita kerjakan ini adalah projek dari perencanaan sampai evaluasi, dan itu dimana harus benar-benar dengan timeline yang kita buat harus sustainable. ”

Ia berharap melalui kegiatan ini dapat menjadi pemicu bagi dirinya agar menemukan pencapaian-pencapaian baru dan selalu bisa menerapkan prinsip fastabiqul khairat. “Apa yang sudah didapat itu menjadi pemicu untuk munculnya capaian-capaian baru sehingga kita antara satu sama lain bisa menerapkan prinsip Islami, yaitu fastabiqul khairat,” katanya.

Aziz berpesan kepada seluruh mahasiswa Ilmu Komunikasi UMY agar selalu optimis dan tetap berusaha. “Paling penting adalah kita merasa optimis atas hal-hal yang kita lakukan, yang penting kita berusaha saja. Berusaha mengharumkan nama almamater, bagaimana kemudian bisa mengasah kemampuan diri, yang penting tugas kita ikhtiar. Sisanya kita serahkan pada Allah, proses mana yang menghasilkan yang paling baik, yang penting ada ikhtiar,” tutupnya.